Pertanggung Jawaban Pemimpin Sejati

Suatu Ketika, manakala Nabi Muhammad SAW sembuh dari sakit, beliau datang ke masjid dan shalat dua rakaat. Sesudah itu, di hadapan segenap para sahabatnya. Nabi naik ke atas mimbar lalu berbicara. Suaranya gemetaran, menandakan demam masih menggangunya. Hati orang-orang yang hadir jadi terharu semua dan banyak udah yang terisak tanggis.
“ Wahai kaum muslimin,” nabi mengawali pidatonya
“inni kuntu lakum nabbiyan, wa naashihan wa da’iyan ilallahi, bi ‘idznih.”aku selama ini adalah nabi, yang juga menjadi penasehat buat kamu sekalian, dan mengajakmu semua ke jalan Allah dengan seizinNya. Aku adalah ibarat saudara yang erat, ibarat bapak yang iba hatinya kepada anak-anaknya. Untuk itu, barang siapa yang pernah kuaniyaya dirinya, tuntutlah balas atasku pada hari ini, sebelum aku dituntut dihadapan pengadilan Allah kelak. Siapa yang merasa telah kuambil hartanya, tagihlah sekarang juga. Dan siapa yang merasa telah kuhina, hinalah aku atau halalkanlah.”
Satu pun yang hadir tidak ada yang bergerak. Semua diam. Siapakah yang tega hati menuntut Rasulullah, apalagi hampir tidak mungkin Rasulullah pernah menganiyaya orang lain. Dia adalah pribadi yang agung, yang rendah hati dan pantang menyakiti hati orang lain. Seorang badui kencing di dinding masjid, didiamkan saja, lantaran nabi idak mau menyakiti penduduk gunung yang bodoh itu.
Pertanyaan nabi tidak mendapat respon. Diulangi lagi seruannya tersebut. Sahabat-sahabat saling berpandangan satu sama lain. Mana mungkin Rasulullah memiliki cacat “ Beliau dalah manusia berpribadi sempurna,” demikian gumam para sahabat yang tergambar dari wajah mereka. Buat yang ketiga kalinya, Nabi mengulangi lagi seruannya. “adakah diantara kalian yang pernah ku aniaya dirinya? Bangunlah!”.
Tiba-tiba ditengah para sahabat berdirilah seorang laki-laki yang bercambang, namanya adalah Ukkasyah bin Muhghin, ia mengacungkan tanggan sambil berteriak : “Hai Rasulullah. Fidaaka abi wa ummi. Engkau telah kutebus dengan bapak dan ibuku. Andaikata tidak kau ulangi seruanmu sampai tiga kali, aku tidak akan berdiri seperti sekarang. Namun karena engkau masih mengulang-ulanginya juga, maka aku ingin menyampaikan, bahwa benar engkau pernah menganiaya diriku”.
“Hm,” sahabat-sahabat semuanya mengeram mendengar kejumuwaan Ukkasyah ini. Mereka menatap Ukkasyah dengan mata merah.
“Waktu itu terjadilah dalam perang badar,” kata ukkasyah seterusnya. “ untamu berada didepan untaku. Kukejar engkau untuk berjalan bersama, tapi malah kau pukulkan cambukmu kearahku sehingga mengenai punggungku. Dan punggungku merah karenanya”.
Kembali para sahabat menggeram
Ukkasyah melanjutkan : “aku ingin bertanya, wahai Rasulullah. Apakah saat itu kau pukulkan aku secara sengaja atau tidak?”
Kurang ajar, bagaimana Ukkasyah ini? Masa ia Rasulullah memukul dengan sengaja? Keterlaluan Ukkasyah! Begitu gumam para sahabat dalam hatinya. Tapi Rasulullah dengan pelan-pelan menjawab: “Taruhlah waktu itu aku mencambukmu dengan sengaja,”
“Maka sekarang aku menuntut untuk mencabukmu juga,” Teriak Ukkasyah dengan lantang
Nyaris tak tertahan kemurkaan para sahabat, tapi Nabi menoleh kepada Bilal dan berkata “ ambilkan cambuk di rumah Fatimah dan bawakan kemari”.
Bilal, sambil memegangi kepalanya, keluar dari masjid menuju rumah Fathimah, putri Nabi. Tiba disana Bilal memanggil-manggil dari luar: “ Assalamu alaik ya bintarasul,”
“alaikasalam,” Jawab Fatimah dari dalam. “Man ‘alal bab? Siapa itu?”
“saya Bilal disuruh Rasulullah untuk mengambil cambuk untanya,”
“ma yashna’u abii bil qadliib? Apa yang akan dilakukan bapakku dengan cambuk itu?”
“ada seseorang yang mau menuntut balas kepadanya dengan cambuk itu,”
“subhanallah,” jerit perempuan tersebut dari dalam. “siapa orang yang sampai hati mau mencampuk Rasulullah dalam keadaan sakit-sakitan itu?”
Bilal tidak bisa menjawab karena sedih dan dongkolnya. Cambuk itu diterimanya dari Fatimah, dan dibawanya ke Masjid. Di sana diserahkan kepada Rasulullah. Dengan gerakan yang lemah Rasulullah menerimanya, lantas diberikan kepada ukkasyah.
Setelah cambuk itu sudah ditanggan Ukkasyah. Belum sampai sahabat itu bergerak, abu bakar dan umar bangu serempak. “ hai Ukkasyah,” teriak mereka dengan garang. “ Kami hidup disisi rasulullah. Dari pada kau cambuk beliau pukullah kami berdua dengan sepuasa hatimu.”
Ukkasyah tidak menjawab
Rasulullah pun mengangkat tanggannya: “ duduklah, abu bakar dan Umar kalian telah ditempatkan tempatnya oleh Allah di hari pembalasan.”
Baru saja kedua orang tersebut duduk, berdirilah Ali ban abi Thalib. “Hai Ukkasyah cambuklah aku sampail berdarah-darah, asal jangan kau cambuk Nabi yang sedang sakit,”
Ukkasyah mengeleng
Nabi kembali mengangkat tanggannya: “Duduklah, Ali engkau juga telah pasti ke mana akan kembali kelak.”
Kini bangun pula Hasan dan Husain dengan serentak!
“ Ukkasyah, apakah engakau tidak tahu dengan kami? Kami berdua adalah cucu Rasulullah, berarti apabila engkau cambuk kami sama saja dengan kau cambuk Rasulullah. Cambuklah kami, kalau perlu sampai daging kami melepuh semua.”
Ukkasyah belum sempat menjawab, nabi sudah mengangkat tangannya, Uq’udaa ya qurrotai ‘aini Duduklah wahai biji mataku. Kemudian nabi mendekati Ukkasyah dan berkata “Idlrib in kuntu dlariban” Pukullah aku karena aku dulu pernah memukulmu.”
Ukkasyah memandangi nabi sambil memegang cambuk. Para sahabat menatap ukkasyah lalu berganti kearah Nabi.
Ukkasyah lantas berkata : “waktu itu kau cambuk aku dalam keadaan tidak berbaju.”
“ Kalau begitu cambuklah aku dalam keadaan yang sama,” jawab Nabi
“lancang, Ukkasyah. Kejam, Ukkasyah,” jerit para sahabat dalam hati mereka. Namun nabi dengan sabar melukar bajunya, dicampakkannya kelantai. Begitu tubuh Nabi sudah terbuka, para sahabat tidak tahan lagi. Mereka menjerit dan menanggis melihat keadaan Rasulullah yang pucat seperti tidak berdarah. Apalagi Ukkasyah melangkah semakin dekat. Mereka memejamkan mata waktu ukkasyah mengangkat tanggannya dengan tegang, dan mengayunkan cambuknya dengan sekuat tenaga. Terdengar bunyi bergelotak, cambuk jatuh kelantai. Makalah mereka membuka mata kembali, tampak ukkasyah tengah memeluk Rasulullah sambil menciumi punggungnya dengan terisak-isak ukkasyah berkata
“ Wahai kekasih Allah. Andaikata kau injak-injak akupun pasti kuhalalkan karena cintaku padamu. Mana mungkin engkau sengaja menganiayaku? Aku minta engkau membuka baju tadi adalah karena ingin memandangi tubuhmu dan mencium punggungmu”.
Semuanya jadi lega. Nabi tersenyum seraya menepuk-nepuk ukkasyah. Lalu nabi bersabda :” Alaa, manilladzii yahibbu an yandzura ahlal jannah, fal yanzur ilaa hadzas syahshi” Ketahuilah, barang siapa yang ingin menyaksikan pengehuni surga , pandangilah orang ini. Yaitu Ukkasyah bin Muhghin”.
……
Bagaimana mungkin kita tidak mencintai dan bahkan mengagumi serta ingin bersamanya disuatu saat kelak. Bagaimana dengan hari ini??? Jangankan untuk memperhatikan rakyatnya dan mau bertanggung jawab atas kepemimpinannya yang bisa jadi telah membuat sengsara rakyatnya selama ini atas kebijakan-kebijakannya, untuk menjadikan syariat Islam sebagai sistem dan dasar hukum saja tidak mau. Bagaimana mungkin??? Disaat orang yang berani menghina Rasulullah dengan gambar-gambar karton serta cercaan secara langsung, mereka(penguasa hari ini) hanya bisa berucap tanpa berbuat yang nyata. Beginikah pemimpin yang kita harapkan hari ini???
Umat sudah sangat merindukan pemimpin-pemimpin yang amanah dan hanya takut kepada Allah SWT serta siap mengorbankan apa saja demi Islam. Tapi bagaimana mungkin bisa mendapatkan pemimpin yang amanah kalau sistemnya sistem yang digunakan adalah sistem yang jelas-jelas salah dan bobrok. Oleh sebab itu, mari dari sekarang kita berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan diterapkannya Syariah Islam secara kaffah dalam bingkai daulah Khilafah, sehingga akan bermunculan para pemimpin-pemimpin yang amanah dan hanya takut kepada Allah.
Ganti Sistem dan Rezim dengan Syariah Islam serta Pemimpin yang Amanah

Banjarmasin, 9 Pebruari 2011
By : Ehend
Sumber Cerita : Buku Lintas Petaka di Bumi sang Rasul : K.H Abdurrahman Arroisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s