Tak Telukis Kasih Sayangnya

Hangatnya pelukannya, lembutnya belaianya, ramahnya suaranya, dan senyumnya selalu berkembang disaat kita datang. Dia rela berdusta untuk memenuhi apa yang kita perlukan. Dia selalu tersenyum dan seakan tidak ada masalah dihadapan kita walaupun bisa jadi dibelakang kita banyak sekali beban dalam pundak dan pikirannya. Disaat kita marah dan kesal dengannya disaat apa yang kita inginkan belum bisa dipenuhinya, dia tetaplah dengan kesabarannya menenangkan kita dan bahkan menjanjikan yang bisa jadi saat itu sangat sulit dipenuhinya. Setiap malam dia pun tidaklah tidur sebelum kita tidur terlebih dahulu, karena dalam benaknya agar kita bisa nyenyak bermimpi dan bisa bangun dengan ceria dibesok harinya serta menjaga kita dari ganguan nyamuk-nyamuk nakal yang menggangu kita. Setiap pagi, dia bangun labih dahulu dari kita untuk mempersiapkan sesuatu halnya untuk keperluaan kita hari ini, walaupun bisa jadi mata masih terasa ngatuk baginya dan tetaplah dia tidak rasakan. Di siang harinya disaat kita bersenang-senang dengan aktivitas kita, dia malah bekerja menguras keringat untuk memenuhi kebutuhan kita untuk hari ini serta dikemudian harinya sehingga disaat kita pulang nanti ke rumah sudah tersedia apa yang kita inginkan. Disaat sorenya pun sama apa saja yang dilakukannya selalu berorientasi kepada orang yang disayanginya yaitu kita. Begitulah aktivitasnya setiap saat untuk kita, untuk kita, untuk kita dan untuk kita walaupun disisi lain kadang kita telah membuatnya selalu marah, kesal bahkan bisa jadi akibat apa yang kita lakukan telah membuatnya menanggis. Semuanya dikorbankannya untuk kita dan tidak meminta balasan apa-apa dari kita. Baginya senyum dari kitapun sudah membuatnya senang dan bahagia.

Seakan tidak telukis bagaimana apa yang selama ini dia lakukan terhadap kita. Disaat kecil bagaimana merasa sentuhan yang penuh arti. Belaian yang penuh kasih sayang. Disaat kita mulai terbiasa dengan sikap rengekan kita, dia seakan tidak pernah bosan mendengarnya dan selalu memberi yang terbaik. Setiap apa yang kita perlu selalu dia usahakan walaupun dalam keadaan yang sesederhana mungkin. Setiap saat apa saja dia korbankan untuk kita walaupun sebernarnya dia juga memerlukan, yang penting dalam benaknya adalah untuk buah hatinya.

Tapi…

Beginilah kita, seakan tidak pernah merasa apa yang telah dia korbankan untuk kita tidaklah berbekas bahkan hilang entah kemana. Disaat sesuatu permintaan kita belum dipenuhi, bisanya kita hanya marah-marah bahkan membentak-bentak. Disaat kita diminta untuk membantunya barang beberapa menit, kita malah berbagai alasan telah melayang dihadapanya. Disaat kita kekurangan untuk membeli sesuatu yang kita inginkan kita bisanya hanya merengek dan meminta-minta. Bisanya kita hanya meminta tanpa untuk memberi balasannya.

Itulah kita, jangankan untuk berucap terima kasih kepadanya, tapi setiap hari kita selalu keluar kata-kata bak tidak ada penyaringnya.

Itulah kita, jangankan untuk berbuat baik, setiap hari kita hanya bisa mengeluh dan membentak-bentaknya.

Itulah kita…..

Itulah kita…..

Itulah kita…..

Ya… Allah,

Terima kasih ku ucapkan kepada kedua orang tua hambamu ini

Yang telah menjaga serta menyayagi kami sampai dengan sekarang

Jadikan mereka orang-orang yang Engkau ridhoi

Ya… Allah

Ampunilah dosa hambamu ini yang tiap harinya telah menyakitinya.

Jadikanlah setiap apa yang telah mereka lakukan sebagai amal dihadapanMu

Ya… Allah,

jadikanlah kami terus berkumpul,

yang tidak hanya didunia tetapi juga diakhirat kelak

amien…

Tamban, 12 Pebruari 2011, Dirumah, 16:50 Wita.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s