sistem yang hakiki

Mesir berggejolak dan berakhir dengan turunnya husni mubarak. Gejolak akan permintaan turunnya para penguasa sebelumnya dilakukan rakyat Tunisia. Setelah gejolak mesir, seakan tidak mau tinggal diam beberapa negara timur tenggah pun juga mulai geliat pergejolakkan. Aljazair, Yaman dan beberapa negara timur tenggah mulai terliat rakyatnya turun ke jalan untuk menuntut berhentinya sebuah rezim dan keinginan keadaaan negaranya lebih membaik dari sebelumnya. Melihat fakta yang ada kenapa semua itu terjadi dikarenakan keadaan masyarakat yang semakin memburuk. Dari kemiskinan, kekerasan, ketidakadilan serta di tambah dengan pemerintah yang korup sehingga menuntut rakyat untuk bergerak. Semua itu terjadi tidak hanya di negara timur tenggah tetapi semua negara-negara Islam lainya termasuk Indonesia terjadi hal yang serupa yaitu kemerosutan dan kezhaliman penguasa. Fakta telah membuktikan bahwa negara telah gagal dengan sistem sekarang yaitu sistem demokrasi kapitalis. Saatnya melakukan perubahan.
Perubahan seperti apa??? Berkaca sejarah telah banyak terjadi perubahan secara pergantian rezim tapi tidak menghasilkan perubahan hakiki malah semakin terjadi kemerosutan umat. Saatnya perubahan kepada sistem yaitu syariah Islam pastinya. Sistem Islam hanya akan berjalan dengan utuh dalam bingkai sistem Khilafah. Sistem khilafah bukan teokrasi, bukan kerajaan, bukan persemakmuran apalagi jelas bukan demokrasi. Sistem khilafah adalah sistem yang khas dimana kedaulatan dibawah hukum syara’ sehingga semua hukum berasaskan hukum syara’.

Apa itu khilafah
Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia. Khilafah bertanggung jawab menerapkan hukum Islam, dan menyampaikan risalah Islam ke seluruh muka bumi. Khilafah terkadang juga disebut Imamah; dua kata ini mengandung pengertian yang sama dan banyak digunakan dalam hadits-hadits shahih.
Khalifah adalah kepala negara dalam sistem Khilafah. Dia bukanlah raja atau diktator, melainkan seorang pemimpin terpilih yang mendapat otoritas kepemimpinan dari kaum Muslim, yang secara ikhlas memberikannya berdasarkan kontrak politik yang khas, yaitu bai’at. Tanpa bai’at, seseorang tidak bisa menjadi kepala negara. Ini sangat berbeda dengan konsep raja atau dictator, yang menerapkan kekuasaan dengan cara paksa dan kekerasan.

Berdasarkan Al qur’an
Sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa syariat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT adalah satu-satunya syariat yang paling sesuai baik dengan hidup dan kehidupan kita. Sebab tidak ada satupun pihak yang paling memahami apa yang paling baik dan paling tepat bagi manusia, kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, jika manusia ingin mendapatkan kebaikan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat, sudah semestinya terikat dan menerapkan aturan-aturan dari Allah SWT secara totalitas dalam semua aspek kehidupan. Allah SWT telah menetapkan bahwa hukum Allah (syariat Islam) adalah hukum yang terbaik. Dalam firmannya :
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah SWT. Dia menerangkan yang sebenarnya dan dia pemberi keputusan yang paling baik,” (TQS Al An’am : 57)
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari hukum Allah, bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al Maidah : 50)
“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (TQS Yusuf : 40)
Ayat-ayat di atas dan juga banyak ayat dalam al qur’an yang menjelaskan akan keharusan (kewajiban) berhukum hanya kepada hukum Allah yaitu penerapan syariah Islam secara kaffah (totalitas).
Selain itu juga Allah telah menjanjikan bahwasanya Islam kembali akan berjaya dan tegak seperti sebelumnya. Firman Allah SWT :
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.”(TQS An Nuur : 55)
Selain itu dalam firman yang lain Allah SWT sangat tegas dalam ayatnya akan kewajiban menegakkan syariah Islam dalam bingkai Khilafah yaitu dalam firmannya :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (TQS Al Baqarah : 30)
Bertolak dari pemikiran ini, tak mengherankan jika al-Qurthubi menyatakan, ayat ini menjadi asal atau pokok bagi wajibnya mengangkat imam dan khalifah yang didengar dan ditaati, untuk menyatukan kalimat, dan menerapkan hukum-hukum khalifah. Dalam tafsir ibnu kasir pun demikian ayat tersebut menjelaskan akan kewajiban pengangkatan seorang khalifah dan Pendapat ini juga didukung az-Zuhaili. Mereka menegaskan, seluruh ulama sepakat tentang wajibnya mengangkat khalifah di antara umat dan para imam. Dalam tafsir ibnu kasir pun juga dijelaskan bagaimana pengangkatan seorang khalifah dengan cara bai’at dan juga ada penjelasan tentang kreteria seorang khalifah.
Walhasil, Khilafah wajib ditegakkan. Setiap Muslim pun wajib turut berjuang bahumembahu menegakkan Khilafah yang menerapkan Islam dan menyebarkannya ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad.

Berdasarkan Hadist
Patut ditegaskan, negara yang ditetapkan Islam untuk menerapkan syariah adalah Khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Rasulullah saw. bersabda:
Di tengah-tengah kalian terdapat masa kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada masa Khilâfah ’alâ minhâj al-nubuwwah. (HR Ahmad).
Rasulullah saw. juga menetapkan, para khalifah adalah satu-satunya pihak yang bertugas mengatur dan mengurusi umatnya setelah Beliau wafat:
Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap nabi meninggal, nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Akan tetapi, nanti akan ada banyak khalifah. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Khalifah itulah yang diwajibkan untuk diangkat dengan jalan baiat. Dengan adanya khalifah, kewajiban adanya baiat di pundak setiap Muslim dapat diwujudkan. Sebaliknya, jika tidak ada khalifah, baiat yang diwajibkan itu tidak ada di pundak setiap kaum Muslim. Rasulullah saw. mencela keadaan tersebut dengan menyebut para pelakunya mati jahiliah. Beliau bersabda:
Siapa saja yang mati, sementara di atas pundaknya tidak ada baiat, maka matinya dalam keadaan jahiliah. (HR Muslim).
Bagaimana mungkin kita bisa membai’at seorang khalifah kalau tanpa adanya sistem khilafah itu sendiri. Sehingga untuk membai’at seorang khalifah haruslah menerapkan Syariah Islam dalam bingkai Khilafah.

Berdasarkan Ijma’ sahabat
Disaat meninggalnya Rasulullah SAW, para sahabat bukannya langsung memakamkan beliau tetapi mereka (kalangan muhajirin dan anshar) berkumpul terlebih dahulu disaqifah bani saidah untuk menentukan siapa yang akan menjadi khalifah selanjutnya. Pemilihan itu dilakukan dalam dua sesi, pertamanya di Balai Bani Saidah yang disertai oleh elit khas muslimin saja (tokoh muhajirin dan Anshar), dan yang kedua berlangsung di atas mimbar masjid Nabawi, Madinah, dengan kehadiran seluruh muslimin dari semua kalangan ini dikenal dengan Bai’ah Ammah, atau Bai’ah Kubra. Setelah dua hari tiga malam dan tepilihnya syaidina Abu Bakar Al Sidiqs sebagai khalifah barulah jenazah Rasulullah SAW dimakamkan. Semua ini menandakan sebagai ijma sahabat bahwa pentingnya pengangkatan seorang khalifah.
Kita tau karakter para sahabat sangatlah mulia dan ketaatannya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak dapat diragukan lagi. Sehingga apa yang mereka lakukan bukanlah hal yang sepele bahkan hanya untuk kepuasaan dunia. Pasti orientasinya adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sehingga ini juga menjadi gambaran yang nyata bagi umat muslim hari ini akan pentingnya pengangkatan seorang khalifah yang sebelumnya harus tegaknya khilafah secara utuh terlebih dahulu.

Pendapat Para ulama
Perlu dicatat disamping menggunakan istilah Khilafah, para ulama juga menggunakan istilah Imam atau Imamah yang maknanya adalah sama. Pendapat Imam Ar-Razi mengenai istilah Imamah dan Khilafah dalam kitab Mukhtar Ash-Shihah hal. 186 :
“Khilafah atau Imamah ‘Uzhma, atau Imaratul Mukminin semuanya memberikan makna yang satu [sama], dan menunjukkan tugas yang satu [sama], yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum muslimin.” (Lihat Muslim Al-Yusuf, Daulah Al-Khilafah Ar-Rasyidah wa Al-‘Alaqat Ad-Dauliyah, hal. 23; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz 8/270).
Pendapat serupa dari Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah hal. 190 :
“Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini [khalifah] dan bahwa ia adalah pengganti dari Pemilik Syariah [Rasulullah SAW] dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. [Kedudukan ini] dinamakan Khilafah dan Imamah, dan orang yang melaksanakannya [dinamakan] khalifah dan imam.” (Lihat Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-‘Uzhma ‘Inda Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah, hal. 34).
Berikut ini kami kutipkan beberapa pendapat ulama tentang wajibnya Khilafah :
Syaikh Abdurrahman al-Jazairi menyatakan, “Para Imam (yaitu Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad)—Rahimahullah – telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardlu, dan bahwa kaum muslimin wajib mempunyai seorang imam (khalifah) yang akan menegakkan syi’ar-syi’ar agama, dan menolong orang-orang yang dizalimi”.
Imam Ibnu Hazm berkata, “Seluruh golongan Ahlus Sunnah, Murji’ah, Syi’ah dan Khawarij, telah sepakat mengenai kewajiban Imamah dan bahwa ummat wajib menta’ati imam yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah, dan memimpin mereka dengan hukum-hukum syari’at yang dibawa Rasulullah SAW”.
Imam al-Qurthubi berpendapat, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya perkara itu (yakni kewajiban Khilafah) baik diantara ummat maupun diantara para imam, kecuali pendapat al-Asham dan siapa saja yang mengambil dan mengikuti pendapatnya”.
Ibnu Khaldun menulis, “Sesungguhnya pengangkatan Imam adalah wajib, hal ini telah diketahui secara syar’i berdasarkan ijma’ shahabat dan tabi’in dan para shahabat Rasulullah Saw ketika beliau wafat mereka bergegas membai’at Abu Bakar r.a. dan menerima pandangannya dalam setiap urusan mereka dan yang demikian ini terjadi setiap masa. Tidak pernah dibiarkan kekacauan di tengah-tengah manusia pada setiap masa dan penetapan hal tersebut berdasarkan ijma’ menunjukkan wajibnya pengangkatan Imam”
Al-Mawardi mengatakan, “Pengangkatan Imam (Khalifah) yang ditegakkan di tengah-tengah umat berdasarkan ijma adalah wajib.”
Ibnu Taymiyah menambahkan, “Wajib diketahui manusia bahwa adanya wilayatul amr (pemerintah) bagi manusia adalah kewajiban yang paling agung dalam agama. Bahkan tidak tegak agama dan juga persoalan dunia tanpanya (pemerintahan).”
Imam an Nawawi dalam Syarh Shohih muslim menulis :
Mereka (para Imam Madzhab) sepakat wajib bagi kaum muslimin mengangkat Kholifah
Al-imam Al-qurthubi ketika menafsirkan ayat 30 dari surah Al-baqarah:
Menulis…ayat ini pokok (yang menegaskan) bahwa mengangkat imam dan khalifah untuk didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan, melalui khalifah, hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara umat, tidak pula diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-asham, yang menjadi syariat Asham, dan begitu pula setiap orang yang berkata dengan perkataannya serta orang yang mengikuti pendapat dan madzhabnya
Adapun tentang kewajiban ditengah kaum muslimin terdapat satu Kholifah ditegaskan juga oleh para ulama antara lain :
Penulis buku الفقه على المذاهب الأربعة) )mengatakan : telah sepakat para Imam Madzhab semoga Allah merahmati mereka tentang kewajiban imamah (khilafah)…dan tidak boleh bagi kaum muslimin dalam waktu yang sama di seluruh dunia terdapat dua imam..
Imam An Nawawi dalam syarh shohih muslim mengatakan :
Telah sepakat para ‘ulama bahwa tidak boleh diangkat dua orang kholifah dalam waktu yang sama , sama saja apakah Darul Islam itu luas atau tidak
Kutipan diatas hanya sebagian saja dari pendapat ulama yang mereka gali berdasarkan al Qur’an, As Sunnah serta ijma’ sahabat akan kewajiban penegakan khilafah
Penutup
Berkaca dari penjelasan tersebut sudah sangat jelas bahwa khilafah adalah sistem yang berdasarkan hukum syara’ dan mengembalikannya adalah sebuah kewajiban setiap umat muslim tanpa terkecuali. Tanpa khilafah syariat Islam tidak berjalan dengan sempurna sehingga penegakannya untuk sekarang adalah sebuah kewajiban. Dalam kaidah usul fiqih disebutkan “suatu kewajiban tidak akan sempuna (pelaksanaannya) tanpa sesuatu, maka sesuatu tersebut (hukumnya) adalah wajib”. Syariat Islam tidaklah sempurna dilaksanakan tanpa sebuah institusi negara yaitu khilafah. Oleh sebab itu penegakan khilafah adalah sebuah kewajiban umat muslim seluruh dunia dimana pun berada karena ini adalah sebuah seruan dari Allah SWT. Sikap seorang muslim disaat tahu akan seruan dari Allah SWT adalah taat dan menjalankan dengan keikhlasan. Sekarang bukan lagi seruan untuk perubahan rezim akan tetapi perubahan akan sistem. Dari sistem kufur kepada sistem Islam.
Wallâh a‘lam bi ash-shawâb.

By : Ehend
Banjarmasin, 17 Pebruari 2011 (Dikala Fajar Mulai Menyongsong)

Bahan Rujukan Penulis :
1. Buku : dasar-dasar kebangkitan, karangan Ahmad Al Qashash.
2. Buku : Reformasi VS Revolusi, karangan Mohammad Mushthofa Ramadhan.
3. Buku : usul fiqih : kajian usul fiqih mudah dan praktis, karangan ‘Atha bin Khalil.
4. Buku Khilafah Rasyidah yang telah dijanjikan dan tantangannya, terbitan Hizbut Tahrir Indnesia
5. Den_ Bagus. Benarkah Pendapat Khilafah Rapuh?. Online situs : khilafahstuff.com
6. Ebook : Tafsir Ibnu Kasir juz 1
7. Manifesto Hizbut Tahrir : untuk indonesia, terbitan Hizbut Tahrir Indonesia
8. Rokhmat S. Labib, M.E.I. Kewajiban Menegakkan Khilafah (Tafsir QS : Al Baqarah : 30) Online situs : http://hizbut-tahrir.or.id/2007/04/06/kewajiban-menegakkan-khilafah-2/
9. Situs resmi Hizbut Tahrir Indonesia :http://hizbut-tahrir.or.id/2010/01/21/apa-itu-khilafah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s