CINTA YANG MEMBIUS

Cinta membius, membius siapa yang memegangnya bahkan mengenggamnya. Karena cinta ini bukan sembarang cinta. Cinta yang tidak memandang status sosial bagi pemegangnya. Cinta yang tidak berdasar kepada kelebihan fisik atau harta. Bahkan cinta ini melebihi pengorbana romeo atas juliet.

Liatlah seorang budak ini. Seorang budak pada masa dulu apabila keluarga dari seorang budak tetaplah keturunannya menjadi seorang budak. Tetapi setelah cinta itu merasuk kedalam dirinya dan telah merevolusi pemikirannya sehingga siapapun yang menentang cinta tidaklah dia gubris bahkan akan dia lawan untuk mempertahan kan cintanya. Sehingga melihat kekokohan cintanya tersebut majikannya pun menganiyaya dirinya bahkan melebihi penganiyayan sumiati seorang pembantu di negara Arab Saudi. Budak ini di aniyaya dengan dicambuk ditengah padang pasir yang panas bahkan ditambah dengan tindihan batu yang panas di dadanya. Dalam keadaan seperti itu maka tawaran-tawaran kenikmatan dunia pun bermunculan untuk memalingkan cintanya tersebut. “ahad… ahad… ahad” ucap seorang budak tersebut sebagai bentuk kekokohan cinta yang telah membiusnya tersebut. Budak tersebut adalah seorang Bilal Bin Rabbah. Begitupun dengan keluarga yasir yang harus mendapatkan penyiksaan dari majikannya hanya mempertahankan cintanya tersebut. Bahkan Sumayyah ibu yasir syahid dengan ditusuk dari kemaluannya sampai tenggorokannya dengan tombak. Sungguh cinta itu telah membiusnya.

Liatlah seorang yang tampan dan kaya ini. Pemuda ini sebelum mendapatkan cinta sejatinya dia seorang yang tampan lagi kaya. Sehingga banyak kalangan perempuan saat itu berharap dan menginginkan menjadi pendamping hidup pemuda tersebut. Bahkan aroma parfum kasturinya dari kejauhan sudah tercium oleh orang yang berjauhan dengannya. Tetapi setelah cinta itu merasuk dalam dirinya dan bahkan telah terpatri kuat, maka merubahnya 1800. Sungguh cinta itu telah mebiusnya, kekayaannya pun dia tinggalkan untuk memenuhi seruan dari yang dia cintai. Bahkan Rasulullah SAW menangis setelah kewafaatanya karena kain kafan yang dia miliki untuk menutupi tubuhnya tidaklah cukup. Dikala mau menutupi kepalanya maka bagian kakinya yang terbuka, bila menutupi kakinya maka bagian kepalanya yang terbuka. Sungguhnya cinta itu telah membiusnya sehingga harta dan ketampanan bukanlah modal dia untuk mengapai cinta hakikinya. Pemuda itu adalah mus’ab bin umari. Cinta yang membius.

Cinta itu terbangun bahkan terikat oleh ikatan aqidah islam. Aqidah yang telah menjadikan cinta itu seperti kekuatan yang tak tertandingi oleh apapun. Cinta yang membutuhkan keseriusan, cinta yang melahirkan kekuatan bagi pemeluknya dari yang biasa menjadi luar biasa. Cinta yangmenumbuhkan tanggung jawab. Cinta yang melahirkan pengorbanan bahkan rela untuk menjadi terkorban. Sungguh cinta itu telah membius para pengenggamnya.

Bagaimana dengan kita, sudahkan cinta itu membius kita …

Katakanlah: “jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
( At Taubah : 24)

Tamban, 28 Maret 2011

Dikala pagi mulai menyingsing…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s