“BIDADARI” DUNIA MENGALAHKAN BIDADARI SURGA

*Tulisan ini khusus penulis buat, untuk adik perempuan penulis (semoga dalam waktu dekat sudah menjadi Muslimah Kaffah dan Ideologis), buat teman-teman perempuan yang pernah kenal sama penulis lebih khusus yang kemarin berdiskusi tentang hal ini serta para perempuan dimana saja berada.

Pada suatu malam, ada sebuah sms teman lama masuk ke inbox Hpku tanpa terasa arah pembicaraan sms pada sebuah tema yang menarik yaitu bidadari dunia yang bisa membuat iri para bidadari surga. Karena keterbatasan ruang sms tersebut maka penulis memaparkan sedikit tentang hal tersebut lewat tulisan ini.
Setiap kali kita mengucapkan kata bidadari maka yang terbayang dalam pikiran seseorang adalah seorang wanita yang memiliki kelebihan dalam berbagai hal termasuk dalam kecantikannya. Setiap laki-laki yang nomal pun akan giler bila disuguhkan hal tersebut. Hanya saja mungkinkah di dunia yang fana ini ada yang layak disebut bidadari dan bagaimana mungkin bidadari tersebut bisa membuat iri para bidadari surga.
Makna bidadari
Sebelum kita beranjak pada menentukan makna bidadari tersebut maka kita samakan persepsi dulu, siapa yang pantas dan layak dijadikan rujukan dalam pendifenisian “bidadari” tersebut. Manusia, alam semesta dan hidup merupakan sesuatu yang memiliki sifat lemah, terbatas dan tergantung. Contoh kecil pada manusia sendiri dalam setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap sesuatu hal tergantung pada paradigma dan informasi sebelumnya yang dia dapat akan hal tersebut. Selain itu bila kita liat dengan jernih maka bagaimana manusia, alam semesta dan hidup saling tergantung satu sama lain dalam perjalanannya serta memiliki keteraturan dalam proses keberadaannya tersebut. Contoh kecil yang dekat dengan diri kita, coba liat aliran darah dan kerjanya jantung tanpa diperintah oleh kita tapi mereka mengalir dan jantung memompa dengan baik sehingga keteraturan metabolisme bisa berjalan dengan baik. Tapi jika jantung itu berhenti barang beberapa menit apa yang terjadi, hehe bisa dipastikan akan mendapatkan titel baru di belakang namanya “alm”.
Bisa kita ringkas bahwa manusia, alam semesta dan hidup yang memiliki sifat lemah, terbatas dan tergantung itu sebelum berada di dunia adanya proses penciptaan dan berada di dunia ini menjalankan setiap perintah dan aturan yang telah ditetapkan oleh sang khaliq serta karena setiap makhluk itu terbatas maka setelah didunia akan mengalami proses pertangung jawaban atas setiap perlakuannya di dunia sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang layak menjadi penentu hukum dan makna tertentu haruslah berstandar akan petunjuk dari Allah SWT.
Bagaimana kita bisa mengetahui akan pentujuk hidup yang benar dari Allah SWT, pastinya melalui wahyuNya yaitu Al qur’an. Ini topik yang berkaitan dengan munculnya pengaturan Ilahi bagi manusia. Sementara itu, esensi dari pengaturan itu berhubungan langsung dengan sesuatu yang menjadi tuntutan fitrah dan yang dapat memuaskan akal. Untuk memastikan al-Quran ini turun dari sisi Allah Swt., diperlukan bukti yang disandarkan pada kepastian dan tidak ada kesamaran. Al-Quran adalah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, Kitab ini mestinya berasal dari Muhammad sendiri atau dari salah seorang atau sekelompok orang Arab, atau berasal dari Allah Swt. yang mengetahui segala sesuatu termasuk bahasa Arab. Tidak ada kemungkinan lain di luar ketiganya dalam masalah ini.
Akal yang lurus akan membatasi Kitab yang terindra ini pada tiga kemungkinan tadi, supaya diskusi ini dapat menghasilkan kesimpulan yang meyakinkan. Jika kita mulai dari kemungkinan bahwa al-Quran berasal dari bangsa Arab, kita dapati al-Quran telah menantang mereka untuk membuat kitab semisal al-Quran dalam surat al-Isra’ (17) ayat 88 Allah Swt. berfirman yang artinya, “Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang semisal al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.
Tantangan ini tidak cukup ditujukan pada orang Arab saja, tapi pada seluruh manusia dan juga seluruh jin. Ketika mereka tidak sanggup membuat kitab semisal al-Quran, Allah Swt. menantang mereka untuk membuat beberapa surat.
Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat untuk menyamainya… ” (TQS Hud [11]:13).
Setelah mereka berusaha tapi mengalami kegagalan, mereka pun tidak sanggup membuat beberapa surat semisal surat dalam al-Quran. Akhirnya, mereka ditantang untuk membuat satu surat saja.
Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat yang serupa dengannya… ” (TQS Yunus [10]: 38).
Meskipun demikian, mereka tidak memedulikan tantangan ini karena berbeda pendapat. Mereka berusaha menjawab tantangan ini dengan membuat sesuatu yang menyamainya, namun mereka tidak sanggup melakukannya. Hal ini memastikan bahwa al-Quran bukan termasuk perkataan orang Arab, meskipun disebutkan kebodohan mereka satu sama lain hingga tidak sanggup membuat sedikit pun semisal al-Quran.
Adapun bahwa al-Quran berasal dari Muhammad saw., merupakan kemungkinan yang juga keliru karena tiga alasan berikut.
1. Muhammad saw. berasal dari bangsa Arab dan berbahasa Arab. Apabila bangsa Arab tidak sanggup membuat sedikit pun yang semisal Al-Quran, begitu pula Muhammad yang juga salah seorang dari bangsa Arab. Beliau tidak akan mampu membuatnya betapapun cerdasnya. Tantangan itu ditujukan pada seluruh bangsa Arab, tidak terkecuali seorang pun dari mereka bagaimana pun keadaannya.
2. Hadis-hadis Sahih dan Mutawatir yang diriwayatkan oleh Muhammad saw. tidak memiliki kemiripan dengan gaya penyampaian ayat-ayat al-Quran, padahal hadis itu muncul pada masa turunnya al-Quran. Ucapan seseorang bagaimanapun jenisnya akan tetap memiliki kesamaan dalam gaya penyampaiannya.
3. Orang-orang Arab yang pintar dalam beberapa gaya bahasa tidak menuduh bahwa Muhammad saw. sendiri yang membuat al-Quran. Semuanya menuduh bahwa Muhammad mendapatkannya dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Akan tetapi, al-Quran membantahnya dalam surat an-Nahl (16) ayat 103, Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal, bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa ‘Ajam, sedang al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.
Dengan meniadakan dua kemungkinan pertama, tinggallah kemungkinan ketiga, yaitu al-Quran berasal dari Allah Swt., Zat yang mengetahui bahasa Arab dan gayanya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, Dialah yang telah menurunkan al-Quran kepada Muhammad saw., kemudian beliau membawa dan menyampaikannya kepada manusia. Inilah yang menjadikan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul dengan bukti rasional yang meyakinkan.
Sehingga dapat kita simpulkan bahwa yang menentukan sikap manusia atas suatu perbuatan hanyalah berasal dari seruan asy syari’ (Allah SWT) yang tertuang dalam hukum syara’ (Al qur’an, as sunah, ijma’ sahabat dan qiyas).
Mohon maaf agak panjang diskusi diawal tadi, menurut penulis hal itu penting agar dalam menyimpulkan hasil diskusi kita menhantarkan pada kesimpulan yang sama. Nah.. kembli ke laptop (hehe) berbicara pada pengertian bidadari serta kriteria bidadari tersebut bisa kita rujuk kepada hukum syara’ itu sendiri. Beberapa hal terkait tersebut dapat kita jelaskan dibawah ini :
Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa pahala di akhirat nanti diberikan kepada laki-laki dan perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah :
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan” (QS Al Imran : 195)
“Dan barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS An nahl : 97)
“Dan barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang beriman, mereka itu akan masuk surga”
(QS an nisa’ : 124)
“Sesungguhnya laki- laki dan perempuan muslim laki-laki dan perempuan yang beriman ….hingga ……Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al ahzab : 35)
Dalam ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa mereka laki-laki dan perempuan, masuk surga bersama-sama
“Mereka dan isteri-isteri mereka terdapat di tempat yang teduh” (QS Yasiin : 56)
“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri isteri kamu digembirakan”
(QS Al Zuhruf : 70)
Allah juga menyebutkan bahwa dia akan menciptakan perempuan dengan penciptaan khusus :
“Sesungguhnya kami menciptakan mereka (para bidadari) dengan penciptaan yang khusus dan kami jadikan mereka perawan (QS Al Waqiah : 35-36)
Keterangan di atas menyebutkan bahwa Allah akan menciptakan kembali perempuan yang sudah tua menjadi bidadari, dan membuat mereka perawan, begitu juga laki-laki yang sudah tua akan diciptakan kembali menjadi pemuda dan beberapa hadits ditunjukkan bahwa perempuan yang masih hidup mempunyai kelebihan dari bidadari karena peribadatan dan kepatuhan mereka.
Melihat dari hal diatas bahwasanya seorang perempuan/muslimah itu akan menjelma menjadi seorang bidadari dikala dia taat akan peerintah dan menjauhi segala larangan dari Allah SWT. Dalam konteks ketaqwaan tidak hanya dalam perkara shalat saja tetapi dalam setiap aktivitas seorang muslimah itu selalu bersandar akan hukum-hukum syara’. Sebagai contoh dalam berpakaian haruslah menutup aurat secara penuh bukan berkerudung saja tapi malah berpakaian kentat atau pakaian-pakaian lain yang mengumbar nafsu bejat. Selain itu juga dalam perkara interaksi laki-laki dan perempuan harus benar-benar terjaga sesuai hukum syara’, bukan malah berdua-duaan (berkhalwat) atau bercampur baur (berikhtilat) laki-laki perempuan dalam perkara-perkara tidak diperintahkan oleh Allah*. Intinya setiap aktivitas seorang muslimah sesuai dengan hukum syara’ maka itulah layaknya seorang “bidadari”.
Mulianya Bidadari Dunia
Untuk menunjukkan betapa mulia dan luar biasanya para muslimah yang kokoh memegang keimanannya bahkan bidadari surgapun mengirikannya. Simaklah sebuah percakapan dari Ummu Salamah dengan Rasulullah SAW.
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”
Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.”
Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.” Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita”
Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49). Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37). Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”. Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”
Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”. Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”
Nah masihkah kita ragu bahkan tidak mau menjadi seorang muslimah kaffah yang mulia bahkan bisa menandingi bidadari surga, wahai para wanita sekalian. Kenapa kalian harus menodai status yang mulia itu dengan hal-hal yang membuat kalian hina di sisiNya.??? Wallahua’lam bishawab[]

(Kamis, 26 Mei 2011  Siang yang menyengat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s