Aku mencari Jawaban…

Beberapa pekan terakhir kesibukan demi kesibukan mulai menghampiri aktivitas hidup ini. Mulai dari aktivitas yang penting sampai yang ngak penting banget  tetap ku jalani. Dari yang mendesak sampai yang tidak terlalu mendesak pun tetap aku arunggi. Begitulah sebuah aktivitas hidup yang tidak terasa aku telah beranjak dewasa dan mungkin sebentar lagi aku akan mengakhiri perjalanan hidup ini. Setiap orang selalu berharap akan berakhir dengan kebahagian begitu juga dengan diriku berharap mendapatkan sebauah happy ending dalam akhir ceritaku.

Tapi mungkinkah…. sedang aku dalam tiap waktunya selalu melanggar akan syariatNya. Setiap kali keluar Rumah ku dapati para wanita yang mengumbar auratnya. Awalnya tidak ingin melihat akan tetapi karena para wanita itu terlalu menjajakan akhirnya terlanjurlah sudah dan sekekali emang dengan niat. Salah siapa? Siapa suruh buka aurat, bukan salahku dong…

Setiap kali akan beraktivitas diluar sana, dengan sistem sekarang aku temui banyak sekali aktivitas-aktivitas riba. Mau gimana lagi, sudah tuntutan sekarang yang mengharuskan aku ikut berkecimpung disana yang penting dapur tetap berkepul. Siapa suruh pake sistem seperti sekarang, aku sich ngak nyuruh tuch…

Disaat malam ku temui banyaknya jajaan hiburan dari pingiran sampai dengan yang berkelas. Bahkan tidak sedikit yang menawarkan “servis” tambahan. Begitulah realitas sebuah tempat yang menjadi salah satu devisa negara yang bernama “tempat hiburan malam” sehingga walaupun berbau maksiat tapi tetap bisa jalan. Karena melaui sanalah aku bisa merasakan bagaimana “nikmatnya” narkoba, minuman keras bahkan ada yang menjajakan “kehormatan”. Oleh sebab itu tidaklah heran jika Indonesia yang mayoritas muslim ini termasuk negara penyumbang aborsi terbanyak dan jaringan narkoba yang besar. Yaah, mau gimana lagi… siapa suruh pake sistem seperti sekarang, iya kan…

Aku merasa bosan dengan kondisi seperti sekarang, seakan ngak ada tempat untuk kita berbuat baik semuanya telah terkempung dengan perkara maksiat. Dirumah dan melihat TV pikirku akan sedikit mengurangi perbuatan maksiatku, yaah ternyata sama saja… dimedia-media TV malah disuguhkan dengan hal-hal mistis dan perdukunan yang bisa jadi sampai pada taraf pemusyrikan. Selain hal tersebut juga disuguhkan dengan perkara-perkara pengumbar syawat dari acara sampai pembawa acaranya semuanya pengumbar syahwat. Aku coba pindah ke chanel yang lain malah kutemui bagaimana kondisi masyarakat Indonesia secara nyata walaupun sedikit saja yang dikupas. Dimulai dari kemiskinan, kemelaratan bahkan ada warga indonesia yang meninggal dikarenakan setiap hari hanya makan nasi aqik. Bahkan tidak sedikit anak – anak yang harus putus sekolah dikarenakan mahalnya biaya sekolah bahkan akupun merasakan hal yang serupa. Disisi lain para orang-orang berdasi yang katanya wakil rakyat malah memakan uang rakyat dengan melakukan pekerjaan korupsi dan sampai sekarang kasus-kasus korupsi tidak pernah terselesaikan dan seakan sepertu dibiarkan. Sedangkan orang-orang muslim yang ingin menerapkan syariat malah dicurigai bahkan tidak sedikit yang baru diduga “teroris” harus mengakhiri hidupnya. Beginilah hasil sistem sekarang, mau dibilang apa lagi… berhasil mensejahterakan, kata siapa!

Dengan kekuatan yang tersisa, aku mencoba mencari penyelesaian akan permasalahan hidup ini sehingga apa yang aku impikan untuk mendapatkan akhir hidup yang bahagia harus aku temukan. Karena sejahat-jahatnya aku, masih pengen di akherat kelak masuk surga. Tapi masih sempatkah pikirku, sedikit teringat ucapan seorang ustadz sewaktu lewat depan sebuah masjid. “Allah itu Maha Pengasih dan Maha penyayang yang selalu terbuka pintu taubat bagi hambaNya yang ikhlas ingin bertobat,” kata ustadz tersebut. Masih terngiang ditelinga dikala aku untuk kedua kalinya melewati masjid tersebut bagaimana Ustadz tersebut menjelaskan ceramahnya,” pernahkah kita renungi bagaimana kebesaran dan kasih sayangNya Allah kepada kita, setiap hari kita bisa menghirup udara untuk bernafas tapi pernahkah Allah menagih bayaran atas seberapa banyak udara yang telah kita hirup. Tidakkan. sehingga pantaskah kita dalam kehidupan ini berhukum selain dari pada hukumNya?..

Kurenungi dengan detail bagian-demi bagian bagaimana kondisi tubuh aku dan interaksinya dengan lingkungan disekitarnya. Karena aku sekolah dibidang eksak maka sedikit banyak aku mengetahui akan hal-hal yang terkait bagian interaksi tubuh. Aku mulai berpikir dengan keteraturan dan kekomplekan kondisi tubuh dan alam semesta sudah sangat pasti bahwa alam semesta, hidup dan manusia ada yang menciptakan dan sudah sepantasnya yang juga mengatur alam semesta, hidup dan manusia yaitu Allah SWT. Sehingga aku mulai mencoba mencari jawaban akan permasalahan dunia ini melalui firmanNya, dan aku menemukannya yang salah satunya ayat berikut : Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan  itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raaf : 96). Dari ayat tersebut dapat kita telusuri bahwa jikalau kita ingin mendapatkan hidup yang sejahtera dan penuh barakah maka sudah sepantasnya kita dalam menjalani aktivitas hidup dengan keimanan yang kokoh dan dibarengi dengan ketaqwaan.

Bentuk ketaqwaan kepada Allah haruslah secara menyeluruh tidaklah setengah-setengah dan berhukum hanya mengunakan hukum-hukum Allah sehingga kesejahteraanpun pasti akan terwujud. Dalam firmanNya Allah menegaskan “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah SWT. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (QS Al An’am : 57). Bahkan Allah semakin menegaskan dengan sebuah pertanyaan yang menantang “ Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dn (hukum) siapakah yang leih baik dari pada hukum Allah, bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah : 50)

Teringat dengan sebuah cerita dimasa Rasulullah, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah SAW, pada perang uhud,” bagaimana pandanganmu wahai Rasulullah SAW, jika aku terbunuh disaat ini? Dimanakah tempatku (setelah kematian)?” Rasulullah bersabda,” Engkau akan berada di surga.” Mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut, maka laki-laki itu serta merta melemparkan buah kurma yang ada ditangannya, kemudian ia maju untuk berperang hingga terbunuh di medan perang. (HR Bukhari dan Muslim)

Begitulah karakter para sahabat yang selalu bersegera merealisasikan janji Allah dan RasulNya dan keyakinan akan janji Allah bagi para sahabat seperti halnya keyakinan bahwa mentari pasti akan hadir dikala siang telah menyongsong. Allah SWT pun telah mengabadikanNya dalam firmanNya,” Sesungguhnya perkataan orang – orang beriman, ketika dipanggil kepada Allah dan RasulNya, untuk menghukumi (masalah) diantara mereka, mereka berkata : kami mendengar dan kami taat. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS An Nur : 51). Selain itu bagiku para sahabat adalah yang menjadi salah satu inspirasi terbesar dalam mengarungi perjalanan hidup yang sebentar ini. Bahkan Allah SWT telah memberikan kabar gembira “Dan bersegeralah kamu kepda ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS Ali Imran : 133).

Sekarang telah aku temukan jawabannya akan solusi permasalahan hidup ini yaitu kembali kepada Islam dengan penerapan yang secara menyeluruh (kaffah). Tinggal sekarang apakah aku mau memperjuangkannya atau tidak? Pilihan ada ditangan ku!!!

Mutiara Muslim 1988

Banjarmsin, 04 juli 2011

Fajar lagi menyapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s