Mahasiswa Unlam: Cerdas dan Syar’i, Pelopor Kebangkitan (sebuah pengantar dari gerakan intelektual Muslim ideologis)

 Oleh : Fadhlan Hidayat

Mahasiswa Muslim dan Perannya

Mahasiswa bukanlah predikat sembarangan. Mahasiswa memiliki cerita yang sudah diketahui banyak orang, baik skala lokal hingga nasional. Dalam rekam jejak sejarah, mahasiswa turut memberikan kontribusi penting menentukan jalannya kehidupan bernegara.

Tercatat mahasiswa pernah memberikan pelajaran kepada rezim-rezim yang berkuasa untuk tidak main-main mengelola negara. Soekarno, Soeharto, Gus Dur, ketiganya telah merasakan diturunkan dari kursi kekuasaannya. Sementara pemimpin lainnya bukan berarti baik-baik saja, semuanya pernah mendapatkan “koreksi” dari mahasiswa.

Koreksi dari para mahasiswa bukan tanpa alasan. Koreksi mahasiswa bercermin dari pengelolaan negara yang setengah hati bahkan lalai terhadap rakyat. Koreksi mahasiswa tentu bukan sembarang nasihat. Melainkan berniat untuk meluruskan kebijakan dan tata laku pemerintahan yang keliru.

Sampai kapanpun peran mahasiswa akan dibutuhkan. Terlebih ketika kondisi sekarang belum juga beranjak dari keprihatinan. Berbagai kedzaliman masih mewabah, kemaksiatan juga seolah tidak terbendung. Bagi seorang muslim, tentu keadaan demikian tidak bisa dipandang dengan tidak acuh.

Seorang muslim memiliki tanggung jawab untuk peduli dengan keadaan di sekitarnya, termasuk kondisi kaum muslimin secara umum. Allah swt dan Rasul-Nya telah menugaskan kepada setiap muslim untuk “bersuara” atas kemaksiatan yang terjadi, baik dengan tangannya, lisannya, hingga dengan hati. Rasul saw bersabda, “Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendaklah ia merobah (menolak) dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah”,(HR. Muslim).

Seorang muslim juga menyadari bahwa memilih untuk bersikap diam adalah menambah keburukan yang lebih besar lagi. Rasul saw bersabda, “Demi dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, Allah swt memerintahkan untuk menyerukan kebaikan dan mencegah kemunkaran, atau Allah akan menurunkan azab (jika kalian meninggalkan amar makruf nahi munkar) dari sisi-Nya, sehingga sekalipun orang yang paling alim di antara kalian berdo’a, do’anya tidak akan diterima”.

Kehidupan Hari Ini

Peran mahasiswa dan mahasiswa Muslim khususnya sangat dibutuhkan mengingat kondisi hari ini yang masih memprihatinkan. Kita bisa merasakan sendiri, bagaimana kebutuhan pokok rumah tangga terus naik. Tidak hanya soal perut, kesehatan dan pendidikan pun setali tiga uang. Tidak jarang kita mendengar, hanya karena tidak memiliki biaya, orang miskin terpaksa kembali pulang ke rumahnya, bahkan sampai meregang nyawa karena tidak tertolong. Kita juga sudah akrab mendengar bahkan menyaksikan bagaimana banyak anak usia sekolah yang luntang-lantung di jalan. Mereka putus sekolah karena terkendala oleh (lagi-lagi) biaya pendidikan yang mahal. Mahasiswa pun tentu sangat merasakan, tiap tahun biaya masuk perguruan tinggi melonjak, begitu juga dengan SPP per semesternya.

Padahal siapa yang tidak kenal dengan melimpahnya sumber daya alam Indonesia? Seluruh wilayah yang ada di Indonesia, tanpa terkecuali Kalimantan Selatan menyimpan kandungan sumber daya alam baik barang tambang mineral, migas, hutan, dsb. Namun apakah kekayaan SDA tadi sejalan dengan kesejahteraan rakyat?

Mari menengok data BPS (2010) yang menyebutkan bahwa dengan standar biaya hidup 7.000/hari, jumlah rakyat miskin di Indonesia mencapai sekitar 31,02 juta jiwa. Menurut kategori Bank Dunia dengan standar 2 dolar per hari angka kemiskinan begitu tinggi sekitar 100 juta orang (Okezone, 18/8/2009). “Itu jumlah yang besar. Kira-kira sama dengan delapan kali jumlah penduduk Singapura”, Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan, (kompas.com, 26 November 2010).

Di sisi lain jumlah penerima Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)—dulu dinama-kan Asuransi Kesehatan bagi Rakyat Miskin (Askeskin)— sebanyak 76,4 juta jiwa pada tahun ini. Lalu jumlah rumah tangga miskin (RTS) yang akan menerima raskin yakni 17,5 juta kepala keluarga (KK) atau sekitar 77 juta jiwa. Angka ini hampir sama dengan perkiraan Bank Dunia bahwa jumlah rakyat miskin di Indonesia mencapai sekitar 100 juta jiwa dengan standar penghasilan 2 dolar AS per hari (mediaumat.com, 5/4/2011).

Apakah realita kemiskinan ini bukan sebuah ironi? Tidaklah lucu hampir separo dari jumlah keseluruhan rakyat berada dalam lingkaran kemiskinan.

Lantas ke mana anugerah dari Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa, berupa melimpahnya kekayaan SDA di negeri ini? Ke mana manfaat dari barang tambang mineral seperti emas, perak, tembaga, batu bara, atau minyak bumi dan gas, hutan, dan beragam kekayaan lainnya? Dengan kata lain, kalau rakyat sendiri tidak serta merta sejahtera, lalu siapa yang mendapat untung atas semua itu?

Data yang membuat kita tercengang, bahwa tercatat sejak 1969, 80% kekayaan alam dan aset Indonesia dikuasai asing dan 70% sumber daya alam dan aset penting dikuasai Amerika (detik.com, 2009).

Di antara sumber daya alam tersebut, 90% perusahaan asing duduk menguasi sektor migas (data serikat pekerja pertamina, 2008). Di sektor tambang mineral juga tidak berbeda, asing menguasai lebih banyak. Wilayah Ertsberg dan Grasberg di Papua yang dikelola PT Freeport merupakan daerah pertambangan dengan cadangan emas terbesar di dunia (ketiga terbesar untuk tembaga). Tercatat, cadangan emas yang dimiliki kawasan ini sekitar 40 juta ons emas, 25 milyar pon tembaga, dan 70 juta ons perak. Nilai secara keseluruhan mencapai sekitar 40 milyar dolar AS (Marwan Batubara, 2010).

Di negeri kita yang memiliki banyak hutan, tercatat sebesar 2 persen/tahun (1,87 juta hektar), atau 51 km/hari hutan digulung. Itu berarti, seluas 300 lapangan sepak bola. Semua akibat ambisi konsumerisme tak terkontrol dari pemilik modal (Harian Kompas 21 Maret 2007).

Di Kalimantan Selatan, adalah fakta bahwa Kalimantan Selatan menghasilkan batubara 78 juta ton/tahun. Tentu jumlah yang sangat besar, namun pada kenyataannya saat ini 70% batubara itu diekspor ke luar negeri, 29% dikirim ke pulau Jawa dan Bali. Jadi jika listrik mati dilumbung energy (baca : Kalsel) itu sudah biasa, (Tambang Kalsel, Bagai Menggali Kubur Sendiri, Dwitho Frasetiandy: 2010). Tidak kah mengherankan bahwa SDA kita ternyata lebih diprioritaskan untuk diekspor padahal kita sendiri memerlukan.

Begitulah yang terjadi, negeri ini seperti menjadi jongos di rumah sendiri. segala sumber daya yang ada diserahkan ke orang lain. Padahal rakyat sendiri masih membutuhkan. Ini tentu bukan negeri kita pemurah atau ringan tangan, tetapi negeri kita sedang dijerat oleh penjajahan gaya baru.

Penjajahan gaya baru ini mewujud melalui intervensi terhadap suatu negara agar membuat kebijakan yang menguntungkan negara penjajah. Anggota DPR Eva Kusuma mengungkapkan, selama 12 tahun pasca reformasi ada 76 undang-undang yang draftnya dari asing (Tempointeraktif.com, 20/8/2010). Dampaknya, seperti yang telah disebutkan di atas. Asing menguasai SDA negeri kita, dan kita terpuruk.

Asing tau betul, bahwa generasi muda negeri ini akan melakukan penolakan dan perlawanan secara intelektual menentang penjajahan. Oleh karena itu asing pun mencari-cari cara meracuni generasi muda kita agar loyo dan tidak peduli dengan negerinya. Asing menjebak generasi muda dengan obat-obatan terlarang, pergaulan bebas dan gaya hidup bebas lainnya. Asing meracuni generasi muda kita melalui media-media seperti film, majalah, komik, televisi hingga internet.

Terkhusus pergaulan bebas, pada hasil survei Komnas Anak dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 propinsi pada tahun 2007 misalnya,  terungkap sebanyak 62,7 % anak SMP yang diteliti mengaku sudah tidak perawan (Media Indonesia, 19/7/08).

Sementara, dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa selama tahun 2010, telah terjadi 40 kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dialami oleh anak setelah pelaku menonton video porno selebriti musisi dan dua presenter yang heboh. Para pelaku mengaku sebelum memperkosa, mereka terangsang seteah menonton video itu.

Komnas Anak dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 propinsi pada tahun 2007 menyebutkan sebanyak 21,2 % anak SMA yang disurvei mengaku pernah melakukan aborsi. (Media Indonesia, 19/7/08).

Data yang dikeluarkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di tahun 2010,  diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta. Parahnya, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja (tribunnews.com, 1/12/2010).

Sekarang yang menjadi pertanyaan untuk kita, apakah dengan kondisi yang memprihatinkan sedemikian rupa, kita tidak terpanggil untuk berkontribusi melakukan perbaikan? Sebagai mahasiswa, kita memikul tanggung jawab untuk itu semua. Apalagi sebagai seorang Muslim. Melakukan perbaikan terhadap lingkungannya merupakan bagian dari pengamalan agamanya.

Solusi

            Sekedar, menyadari bahwa lingkungan kita rusak tidak cukup. Apa artinya, kita mengetahui kerusakan moral yang ada di tengah-tengah kita, tetapi kita diam tanpa peduli? Apa artinya kita mengetahui negeri kita dalam kondisi terjajah, namun kita juga tak acuh?

            Keadaan yang demikian memprihatinkan kita, tidak lain akibat tertanamnya nilai-nilai sekuler Barat. Sementara di sisi lain, nilai-nilai Islam tercerabut dari jiwa kita. Pengabaian Islam sebagai pedoman hiduplah yang membuat generasi muda kita mengalami kemerosotan moral. Dipandang sebelah matanya Islam juga yang membuat aparat penyelenggara negara kita tidak amanah, korup dan memilih kongkalikong dengan penjajah berbaju baru.

            Allah swt berfirman dalam surah Ar Rum ayat 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Terkait tafsir ayat ini, Imam Ibnu Katsir, al Baghawi, al Zamakhsyari dan ulama tafsir lainnya secara umum menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “akibat perbuatan tangan manusia” adalah akibat dosa-dosa dan kemaksiatan manusia. Kemaksiatan manusia terjadi ketika manusia melanggar atau mengabaikan aturan-aturan Allah swt. Sementara maksud “agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” adalah agar berhenti dari segala kemaksiatan dan kembali taat kepada syariahNya.

            Demikianlah, kalau diibaratkan orang yang menderita sakit parah, maka Islam adalah obat yang bisa menyembuhkan penyakit itu. Sebabnya, Islam sebagai dien  yang sempurna menyediakan jawaban atas persoalan kehidupan manusia. Islam memiliki pedoman bagaimana mengelola kekayaan alam, pendidikan, interaksi sosial dan sebagainya.

Oleh karenanya, kami menyerukan kepada para mahasiswa, terlebih kepada mahasiswa Muslim agar berkontribusi dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa, untuk lebih peduli atas keadaan saat ini. kita tentu menolak individualisme, karena individualisme akan membuat kita acuh tak acuh, terpecah belah, dan tercerai berai. Mari kita bersama-sama memberikan penyadaran kepada masyarakat kampus dan umum. Melalui intelektualitas kita, kita ungkapkan dengan empati bahwa hanya dengan kembali pada ajaran Islam secara kaffah, keadaan kita akan lebih baik. Hingga dengan Islam, kebangkitan negeri yang kita cintai, yang dicitakan bersama-sama akan niscaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s