DEFINISI HADITS DAN PEMBAGIANNYA

Tulisan ini saya tulis bukan karena saya sudah ahli dalam bidangnya tetapi lebih kepada menuliskan kembali apa yang saya peroleh disaat mengikuti kajian MATAN (Ma’had Taqiyudin An Nabhani) Banjarmasin dan juga beberapa buku yang pernah saya baca. Selain itu juga salah satu cara saya untuk mengikat ilmu yang pernah saya dapatkan karena salah satu cara agar ilmu itu bertahan lama adalah dengan cara dituliskan. Sehingga referensi utama dalam tulisan ini adalah kitab yang diajarkan di Matan BJM yaitu Taisir Mushthalah al Hadits karangan DR. Mahmud Thahan yang di asuh oleh Ustadz Muhammad Abduh Al Banjary. Adapun kenapa dipublikasi ke blog ini saya harapkan sebagai bahan diskusi dan informasi untuk saling berbagi. Semoga bermanfaat.
Dalam mempelajari ilmu hadits (mushthalah al hadits) pembahasan pertama diantaranya adalah pengertian dari pada “Hadits” itu sendiri beserta istilah – istilah yang serupa dengannya. Menurut Dr Mahmud Thahan dalam bukunya yang di kaji di matan di sebutkan bahwa pengertian hadits secara bahasa adalah al jadid (baru), bentuk jamaknya adalah ahaadist bertentangan dengan qiyas. Sedangkan menurut istilah adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (diamnya) maupun sifanya.
Pengertian hadits secara istilah oleh DR. Mahmud thahan tersebut senada dengan apa yang didefenisikan oleh Muhammad Husin Abdulah dalam mendefenisikan as sunnah. Defenisi as sunnah yang beliau kutip dari irsyad al fukhul ila tahqiq min ilm al ushul bahwa as sunnah menurut istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW baik berupa perkataan (qawl), perbuatan (fi’l) atau ketetapan (taqrir). Sedangkan menurut bahasa as sunnah berarti jalan yang ditempuh. Sehingga menurut himat kami al hadits dan as sunnah adalah merupakan sinonim diantara keduanya yang memiliki arti yang sama.
Mengenai istilah “khabar” menurut DR. Mahmud Thahan secara bahasa berarti an-naba (berita) dan bentuk jamaknya akhbaar. sedangkan menurut istilah kata beliau ada terdapat tiga pendapat dikalangan ulama hadist yaitu pendapat pertama beliau sebutkan bahwa istilah khabar merupakan sinonim dari pada hadits yang berarti memiliki arti yang sama. Sedangkan pendapat yang kedua beliau kemukakan bahwa khabar itu berbeda dengan hadits dimana hadits itu bersal dari Nabi SAW sedangkan khabar itu adalah yang berasal selain dari Nabi SAW. Adapun pendapat ketiga kata beliau bahwa istilah khabar itu lebih umum (general) dari pada hadits, diaman hadits itu berasal dari Nabi SAW sedangkan khabar itu adalah yang berasal dari Nabi SAW maupun juga berasal selain dari Nabi SAW. Sepanjang pengamatan kami dari buku Taisir Mushthalah Al Hadits bahwa DR. Mahmud Thahan menggunakan istilah khabar yang beerarti Hadits itu sendiri. Wallahu’alm.
Berdasarkan bukunya DR. Mahmud Thahan pembagian hadits atau khabar adalah sebagai berikut:
A.    Pembagian Khabar Diliat Dari Sampainya Hadits Kepada Kita
1.    Khabar Mutawatir
2.    Khabar Ahad
2.a Hadits Mansyur
2.b Hadits ‘Aziz
2.c Hadits Gharib

B.    Pembagian Khabar Ahad Dari Sisi Kuat Lemahnya
1.    Hadits Magbul (dapat diterima)
1.a Hadits Shahih
1.b hadits Hasan
2.    Hadits Mardud (tidak Dapat Diterima)
2.a hadits da’if
2.1 Hadits Mardud disebabkan gugurnya sanad
2.1.a Hadits Mu’allaq
2.1.b Hadits Mursal
2.1.c Hadits Mu’dlal
2.1.d Hadits Munqathi
2.1.e Hadits Mudallas
2.1.f Hadits Mursyal Khafi
2.1.g Hadits Mu’an’an dan Hadits Muannan
2.2 Hadits Mardud disebabkan cacatnya rawi
2.2.a Hadits Maudlu’
2.2.b Hadits Matruk
2.2.c Hadits Munkar
2.2.d Hadits Ma’ruf
2.2.e Hadits Mu’allal

C.    Pembagian Khabar Ahad Dari Sisi Dapat Diamalkan Dan Tidak Dapat Diamalkan
1.    Hadits Muhkam dan Mukhtalif
2.    Hadits Nasikh dan Mansukh

D.    Pembagian Khabar Berdasarkan Aspek Orang Yang Disandarinya
1.    Hadits Qudsi
2.    Hadits Marfu
3.    Hadits Mauquf
4.    Hadits Maqthu’
Dari penjelasan yang singkat tersebut dapat kita pahami bahwa untuk mempelajari perkara-perkara seperti hal tersebut diperlukan sikap serius dan keistiqamahan dalam mempelajarinya. Seperti halnya nasehat dari Imam As Syafie bahwa kita tidak dapat meraih ilmu kecuali dengan 6 hal seperti berikut (a) kecerdasan, (b) kesungguhan, (c) semangat, (d) harta, (e) bimbingan guru, (f) waktu yang panjang. Semoga kita terus semangat dan istiqomah dalam mengali ilmu Islam yang sangat luas ini. Wallahu’alm.
Banjarmasin,
Jiwa Pembelajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s